Dare : Menantang Rasa Nyaman Dalam Diri

Kehadiran Thirteen dari Catherine Hardwicke (yang menyutradarai Twilight) di era 2000-an sempat menyentakkan penonton. Bahwa ada problematika mendasar dari remaja yang selama ini urung terungkap di layar besar. Dan problematika itu menjadi mengerikan ketika dipaparkan dengan gamblang di depan mata kita. Thirteen memang seperti menyempil dari film remaja kebanyakan yang hanya menyorot masalah remeh temeh dan dikemas dengan tone ceria.

Masa remaja sesungguhnya adalah masa paling kompleks dalam fase kehidupan yang kita lalui. Karena disitulah pertemuan antara masa kecil menuju jenjang kedewasaan. Ada berbagai problematika terhampar disana. Dari isu paling simpel seperti jatuh cinta untuk pertama kalinya hingga yang paling mendasar (dan sesungguhnya menjadi salah satu yang terpenting) adalah persoalan pencarian jati diri. Mungkin klise kedengarannya, namun jika kembali me-rewind episode hidup yang sudah dilalui, rasanya hal itu terasa wajar, juga alamiah.

Dalam Dare, sekali lagi isu itu diangkat, namun kali ini terasa lebih kompleks karena ada bumbu homoseksualitas didalamnya. Film bertutur dari sudut pandang Johnny (Zach Gilford) yang seperti punya segalanya (ganteng dan punya orang tua kaya). Padahal Johnny sebenarnya adalah sosok pemuda kesepian. Maka ia membentengi dirinya dengan sikap yang diperlihatkan pemuda kebanyakan : mencoba memberontak terhadap apapun. Ia dicap sebagai pembuat onar di sekolah dan nyaris tak punya teman akrab.

Di kutub yang berseberangan ada Ben (Ashley Springer) yang digambarkan seperti tipikal pemuda kikuk dan manis. Jika Johnny dikenal karena gemar berbuat onar, maka Ben direkognisi teman-temannya sebagai pemuda yang aneh. Jika dilihat lebih jauh, sesungguhnya Ben adalah ”alternate version” dari Johnny. Paling tidak terlihat jelas kesamaan keduanya yaitu sama – sama kesepian.

Yang membuat Ben menang satu poin dari Johnny adalah karena ia punya sahabat sejak kecil, Alexa (Emmy Rossum). Berkat kegiatan ekskul drama, Johnny bisa berkenalan dengan Alexa. Lantas keduanya pun jatuh cinta. Di tengah hubungan panas membara itulah menyelinap Ben. Suatu ketika, di kolam renang di rumah Johnny, Ben nekat mencumbu kekasih sahabatnya itu. Namun Johnny tak melakukan perlawanan apapun.

Spirit yang sesungguhnya diusung Dare adalah keberanian menantang rasa nyaman dalam diri. Hal itu diperlihatkan oleh Alexa yang mencoba keluar dari ”kenormalan”-nya sebagai gadis baik-baik. Sayangnya spirit itu tak dipelihara utuh dalam cerita. Dalam 2/3 bagian film, spirit itu terasa namun setelah itu justru musnah tak bersisa. Karena film lantas lebih fokus pada Johnny yang seperti terombang-ambing oleh ketakutannya akan kesepian, juga pada pencarian jati dirinya. Yang juga menjadi kelemahan besar dari film ini adalah ketakjelasan sudut pandang dari cerita. Apakah Dare dituturkan dari point of view Johnny atau malah Alexa? Ketakkonsistensian ini membuat cerita juga bergerak maju dan melibas sendiri spirit yang dipunyainya.

Padahal Dare sebenarnya punya potensi untuk menjadi film remaja yang stand-out seperti Thirteen. Persoalan pada skenario-lah yang membuat potensi itu terasa terkikis. Padahal pergulatan batin para tokoh-tokohnya berhasil dipotret dengan baik oleh David Brind yang menulis ceritanya. Dan perubahan karakter yang terlihat drastis di film juga tak menjadi masalah karena mendapatkan sumbunya ketika ditranformasikan oleh Gilford, Rossum dan Springer.

Maka ketika film berakhir, Dare tak memberi daya kejut yang menyesakkan. Sungguh berbeda dengan efek yang ditimbulkan Thirteen yang terasa ”menganggu” penonton justru ketika film tersebut usai.

DARE

Director : Adam Salky
Cast : Zach Gilford, Emma Rossum, Ashley Springer
Script Writer : David Brind

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: