You Can Count On Me : Kisah Rekonsiliasi Kakak-Adik

Dalam puluhan judul film Indonesia yang beredar tahun lalu, sedikit sekali yang “berani” mengumbar aspek keluarga. Hubungan orang tua dan anak atau antar sesama saudara jarang sekali dieksplorasi. Maka ketika Nagabonar Jadi 2 muncul dengan mengedepankan kisah haru ayah – anak akhir Maret tahun ini, berbagai tanggapan positif muncul. Tak hanya ceritanya saja yang menyentuh, namun film besutan Deddy Mizwar itu juga kaya dengan berbagai aspek moral. Manisnya karena si penulis cerita tak terasa seperti mengkhotbahi penonton.

Seorang Musfar Yazin, seperti halnya Kenneth Lonergan, si empunya cerita sekaligus sutradara film You Can Count On Me, punya kesadaran penuh untuk mengangkat aspek humanis dalam keluarga. Hebatnya karena di Barat yang selalu digambarkan sangat mengedepankan sisi individualisme, Lonergan malah mengajak kita menjelajahi “isi” rumah Samantha (dimainkan dengan brilyan oleh Laura Linney) yang mencoba berekonsiliasi dengan adiknya, Terry (Mark Ruffalo) yang kembali setelah sekian lama meninggalkan rumah.

Samantha dan Terry digambarkan secara kasat mata sebagai sosok yang sangat berbeda satu sama lain. Sammy sangat teratur hidupnya dan religius, sementara Terry justru tak karuan hidupnya dan tak percaya Tuhan. Maka ketika adiknya mendatanginya untuk meminjam uang, Sammy langsung menceramahi hidupnya. “ Mungkin sebaiknya kamu menyadari bahwa hidupmu berantakan karena kamu tak percaya pada-Nya, “ begitu kira – kira kata Sammy.

Penonton bisa iba dengan dua saudara ini. Keduanya masih kecil ketika ayah ibu mereka meninggal dalam kecelakaan tragis. Syukurlah, karena Lonergan tak membuat film peraih skenario terbaik di Sundance ini menjadi kisah melodrama nan menyayat hati. Sepanjang film, kita dibuat percaya bahwa kedua saudara ini sesungguhnya berusaha saling “menemukan” diri masing – masing. Samantha merasakan hidupnya yang sepi menjadi berwarna karena kehadiran Terry, sementara Terry merasa menjadi lebih baik sejak berada di dekat kakaknya itu.

Ada satu karakter lagi yang tak pelak membuat penonton jatuh hati. Tak lain Rudy (Rory Culkin), putra semata wayang Sammy. Seorang bocah yang tak pernah tahu keberadaan ayahnya dan merasakan hidupnya begitu semu namun tak mampu bereaksi. Berkat Terry-lah, Rudy juga menemukan kehidupan “berbeda”. Koneksi antara ketiganya-lah yang menjadi nyawa dari You Can Count On Me. Dan Lonergan tahu betul bagaimana menjaga cerita yang sudah solid ini menemukan “ledakan” ketika divisualkan ke layar.

Menarik memang menyaksikan bagaimana kisah sederhana dari tiga karakter yang hidup di kota kecil menjadi begitu menarik. Dalam 111 menit, Lonergan berhasil membawa penonton menaiki roller coaster buatannya tanpa tahu apa yang terjadi di hadapan. Dan yang terpenting, semuanya tersaji alamiah, tidak terasa dibuat – buat. Padahal, kita tahu bahwa film adalah rekayasa yang dibuat. Tapi percayalah, You Can Count On Me terasa begitu riil sehingga mungkin sekali kita akan beranggapan bahwa kisah disini pernah dialami sendiri oleh Lonergan.

Departemen akting menyumbang poin besar dari keberhasilan film ini. Chemistry antara Laura Linney dan Mark Ruffalo nyaris sempurna. Meski secara fisik keduanya tampak berbeda, tapi tak menjadi masalah besar ketika mereka meniupkan roh Sammy dan Terry ke diri masing – masing. Penonton rasanya percaya bahwa keduanya adalah saudara. Kekikukan keduanya ketika pertama kali bertemu, percekcokan antara mereka yang sering beda visi hingga kegamangan keduanya ketika menentukan pilihan sulit, menjadi sensasi seni pemeranan. Rory Culkin pun bermain sama gemilangnya. Ia nyaris tak pernah kehilangan momen untuk memperlihatkan “keterlibatan” dirinya diantara ibu dan pamannya.

Sungguh sebuah “liburan” menarik menyaksikan film ini di tengah serbuan film Indonesia yang hanya menjual setan, arwah penasaran, kisah cinta cemen dan entah apa lagi tema “sampah” lainnya …..

YOU CAN COUNT ON ME

Director : Kenneth Lonergan
Cast : Laura Linney, Mark Ruffalo, Matthew Broderick
Script Writer : Kenneth Lonergan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: