Sabah (Coldwater) : (Lagi – Lagi) Membahas Kisah Cinta Beda Agama

Membicarakan tentang agama di negara heterogen seperti Indonesia di sebuah media publik, film misalnya, tidak semudah yang dibayangkan. Seorang sineas ternama negeri ini pernah berupaya membuat film dengan tokoh seorang gadis pesantren yang jatuh cinta dengan pemuda non muslim, dan hasilnya “mental” duluan. Untung, si sineas super kreatif. Ia menggubah film tersebut menjadi film bersetting Papua dengan aroma Katolik yang pekat.

Ruba Nadda, sineas asal Kanada, “berani” mengambil tema yang sepintas terlihat sederhana, namun sebenarnya harus digarap hati – hati. Dan cerita yang dipunyai Sabah (Coldwater) punya potensi luar biasa untuk dieksplorasi. Ia tak bisa sekedar hadir tanpa makna, karena pilihan cerita mengharuskannya demikian. Sabah berkisah tentang seorang wanita cantik bernama Sabah yang jatuh cinta pada duda bernama Stephen. Namun agama menghalangi mereka. Sabah muslim, sedang Stephen yang bule menganut agama berbeda. Walaupun Stephen tak masalah untuk berpindah agama, namun Sabah bersikeras bahwa tak segampang itu keluarganya akan menerima sang pacar. Bahwa ada nilai – nilai tradisional keluarga yang harus dipelihara. Dari sini, Nadda mestinya paham bahwa ia secara sadar memasuki isu sensitif. Jika tak hati – hati, Sabah (Coldwater) bisa menjadi film yang menyinggung perasaan salah satu penganut agama.

Dan itulah problematika utama yang dipunyai film ini. Kisahnya sebetulnya sederhana, di beberapa bagian malah membuat kita tertawa terbahak – bahak. Namun ketika statement demi statement yang dilontarkan Nadda menjadi cair dan tak punya alasan logis, maka terlihat jelas bahwa Sabah (Coldwater) terasa dipaksakan. Nadda punya tanggung jawab untuk menjelaskan pilihan yang diambil tokoh – tokohnya. Jika tidak, penonton bisa ngedumel, bahkan tersinggung.

Sebagai sebuah hiburan, film ini telah menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi ia tak menjalankan fungsinya untuk mengedukasi penontonnya. Menyederhanakan masalah yang dialami tokoh – tokohnya adalah hal paling fatal yang dilakukan Nadda.

Padahal sungguh mati, saya sangat suka film ini. Namun sebagai penganut taat salah satu agama yang dibahas di film ini, saya punya hak untuk tersinggung. Jika Sabah (Coldwater) sekedar film cemen, mungkin saya bisa maklum. Justru karena saya merasakan potensi besar dari cerita yang dipunyai film tersebut, jadinya saya pun ingin mengoreksi beberapa hal. Dan saya pun merasa bahwa film ini mestinya bisa mengobrolkan hal – hal mendasar atas pilihan demi pilihan yang diambil tokohnya, tanpa harus membawa filmnya menjadi super serius.

Ataukah saya yang melihat film ini terlalu serius ? Haruskah film ini jadi sekedar tontonan yang bisa membuat kita tertawa terbahak – bahak saat menikmati untuk lantas dilupakan begitu saja ? Kita, penonton, punya hak untuk menilai. Anda berhak untuk menyenangi film ini, namun disaat bersamaan, Anda pun berhak untuk melihat bahwa isu dalam film tak diletakkan pada proporsi yang tepat. Film ini memang bagaikan pedang bermata dua. Salah sedikit, bisa berbalik arah menghunjam sendiri kreatornya. Oliver Stone pun nyaris selalu provokatif dalam setiap filmnya, namun ia menyodorkan berbagai alasan yang bisa dipercaya. Kenapa Nadda tak bisa ?

SABAH (COLDWATER)

Director : Ruba Nadda
Cast : Arsinee Khanjian, Shawn Doyle, Fadia Nadda
Script Writer : Ruba Nadda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: